Mendengar seseorang berkata lantang, Lynx dan Leena tersenyum tipis, mereka sudah merasakan kehadiran beberapa orang sejak Lynx mulai memurnikan pil, salah satunya berada di tingkat Grandmaster. Awalnya mereka sempat waspada, mengira rekan musuh datang kembali, namun suara percakapan dari kejauhan membuat Lynx segera mengenali bahwa yang datang adalah prajurit dari Kerajaan Muyun, hanya sedang memeriksa situasi karena para penjaga desa sebelumnya belum memberi kabar.

Dari jauh, komandan mereka memperhatikan dua sosok muda asing yang berada bersama kepala desa, sesuatu yang tidak biasa. Mata komandan Fan segera fokus. Bekas pertempuran yang terlihat di desa juga menegaskan bahwa situasi sedang genting. Dia memperkirakan kekuatan dua orang asing ini berada di bawahnya, jadi ia tidak memanggil bala bantuan dan memutuskan untuk turun langsung, bersiap menyelamatkan kepala desa.

Kepala desa buru-buru berseru keras setelah mengetahui siapa yang datang, "Komandan Fan, anda salah paham. Mereka berdua penolong kami."

Komandan Fan tertegun, tidak merasakan permusuhan atau niat jahat dari dua orang asing itu. Wajah kepala desa juga tidak menunjukkan tanda-tanda berada dalam masalah, sehingga ia segera mengurangi tekanan auranya dan turun menghampiri.

"Tuan Deng Haoran, apa yang terjadi sebenarnya?" komandan Fan berkata saat turun dari angkasa, mendekati kepala desa Linxi yang bernama Deng Haoran. Auranya perlahan melunak, menghapus tekanan yang sempat terasa di udara.

Kepala desa segera menjelaskan dengan nada tegas namun lega, "Komandan Fan Zhiyuan, perkenalkan, mereka berdua adalah Tuan dan Nyonya Xiao yang telah menyelamatkan kami dari para perampok yang ingin merampok desa kami."

Komandan Fan menatap sosok Lynx sebentar, alisnya sedikit berkerut menilai kekuatan yang terpancar, Forging Qi tingkat dua. Tatapannya kemudian bergeser ke wanita yang disebut Nyonya Xiao. Pakaian putih sederhana yang dikenakannya tampak seperti peri dari langit. Setiap gerakan, setiap senyuman, bahkan kedipan matanya, memancarkan daya tarik yang mengguncang. Rambutnya tertata sempurna, alis, mata, hidung, bibir, semuanya tanpa cela. Tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang bisa disebut kurang.

Kepala desa Deng Haoran menahan batuk kecil saat menyadari komandan Fan begitu terpana memandangi Nyonya Xiao.

Komandan Fan menegakkan tubuhnya, berusaha menutupi rasa malunya dengan nada tegas, "Maaf-maaf, saya hanya tidak menduga melihat dua orang asing di tempat ini. Dari wajah kalian sepertinya kalian bukan berasal dari benua Nanhuang."

Lynx dan Leena saling berpandangan, kemudian Lynx berkata dengan tenang, "Kami berasal dari salah satu desa tersembunyi di kerajaan ini juga."

Leena menambahkan sambil tersenyum lembut, "Benar, karena para perampok itu memasuki wilayah kami, jadi kami tahu sesuatu sudah terjadi dan segera datang ke tempat ini."

Kepala desa Deng Haoran mengangguk membenarkan. "Benar sekali, Komandan Fan. Para penjaga sepertinya sudah dibunuh oleh para penjahat itu. Kami tidak melihat mereka sejak pagi tadi."

Komandan Fan menatap Lynx dan Leena dengan sorot mata tajam, dalam hati bergumam, "Para perampok itu bisa membunuh para penjaga dan menemukan jalan ke tempat terpencil seperti ini, jelas mereka bukan orang biasa. Pasti wanita ini yang menolong warga... kekuatannya tidak bisa kurasakan."

"Bagaimana keadaan kalian? Apakah baik-baik saja?" tanya Komandan Fan, suaranya lebih lembut.

"Kami semua baik-baik saja, tetapi..." kepala desa tampak ragu. Ingatannya melayang pada seorang wanita desa yang direnggut kehormatannya. Jika Tuan dan Nyonya Xiao terlambat datang, wanita itu mungkin sudah memilih kematian karena tidak sanggup menanggungnya.

Komandan Fan mempersempit pandangannya. "Ada apa, Kepala Desa? Ceritakanlah."

Kepala desa menggeleng cepat, suaranya tenang namun sarat beban. "Tidak apa-apa, Komandan. Semua baik-baik saja." Ia menyembunyikan rahasia itu, tidak ingin aib wanita desa diperbincangkan, apalagi pria yang melakukannya sudah terbunuh.

Tak lama kemudian seorang prajurit datang berlutut memberi laporan. "Komandan, kami sudah memeriksa semuanya. Selain beberapa bangunan hancur, para penduduk dalam keadaan baik. Mereka hanya mengalami trauma. Lima perampok yang menyerang sudah terbunuh dan mayat mereka sudah disingkirkan warga. Selain itu, kawanan perampok lainnya juga diyakini telah terbunuh berkat bantuan mereka berdua."

Komandan Fan menatap kepala desa dengan kening berkerut. "Penduduk desa ini memang tertutup. Mereka lebih suka diam dan menanggung kekejaman daripada menceritakan yang sebenarnya terjadi. Sebaiknya aku melapor ke raja agar beliau memerintahkan penyelidikan langsung."

Ia menarik napas panjang lalu menegakkan tubuh. "Baiklah, karena keadaan sudah aman, aku akan memerintahkan prajurit untuk menjaga tempat ini. Aku sendiri akan kembali ke kerajaan untuk melapor." Pandangannya beralih pada Lynx dan Leena. "Tuan dan Nyonya Xiao, terima kasih atas bantuan kalian. Pihak kerajaan pasti akan memberikan hadiah karena pertolongan kalian."

Lynx mengangkat tangannya pelan. "Komandan Fan tidak perlu sungkan. Sudah sewajarnya kami menolong. Tapi bisakah kita berbicara berdua? Ada hal yang ingin aku tanyakan."

Komandan Fan mengangguk, melangkah menjauh dari kerumunan dengan tubuh menegang, jelas waspada terhadap kemungkinan serangan mendadak.

Lynx hanya tersenyum melihat kewaspadaan itu, namun memilih diam.

"Katakan, apa yang ingin ditanyakan?" tanya Komandan Fan, suaranya tegas.

"Apakah anda mengenal keluarga Baihuan?" tanya Lynx.

Komandan Fan menggeleng, wajahnya dipenuhi tanya. "Keluarga Baihuan? Siapa mereka dan kenapa kamu menanyakannya?"

Lynx menatap lurus, suaranya tenang tapi tegas. "Penduduk desa ini tidak ingin mengatakan siapa yang menyerang mereka, termasuk kepada kami. Tapi kami mendengar percakapan para penduduk di belakang kami. Mereka menyebut dalang semua ini adalah keluarga Baihuan."

"Apa?" Komandan Fan terkejut, lalu wajahnya berubah marah. "Keluarga Baihuan pelakunya? Sayangnya aku tidak tahu sama sekali tentang mereka. Tapi aku akan melaporkan hal ini dan mencari tahu lebih jauh."

Ia menundukkan kepala sedikit. "Tuan Xiao, aku berterima kasih atas informasi ini."

Lynx menambahkan, "Kuharap Komandan Fan bersedia memberi tahu kami tentang mereka. Karena mereka sudah berani melanggar masuk wilayah kami, maka kami harus meminta pertanggungjawaban."

Komandan Fan mengangguk mantap. "Bagaimana cara menghubungi kalian kelak?"

"Komandan Fan tidak perlu khawatir. Kelak kita pasti bertemu lagi." jawab Lynx singkat.

Komandan Fan sempat ingin bertanya di mana desa tersembunyi tempat Lynx berasal. Namun ia mengurungkan niat, menyadari orang-orang dari desa tersembunyi biasanya tidak ingin keberadaannya diketahui. Dari letak dan situasi, ia hanya bisa memperkirakan desa itu tidak jauh dari Linxi.

"Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Komandan Fan.

Lynx menggeleng pelan, lalu mereka kembali ke tempat semula. Dalam hati Lynx bergumam, "Monrest, apa hubunganmu dengan keluarga Baihuan? Aku pasti akan menemukanmu." Tekad itu membakar di dadanya.

Setelah memastikan pengaturan keamanan desa, Komandan Fan akhirnya meninggalkan Linxi dengan membawa beberapa prajuritnya kembali ke Kerajaan Muyun untuk segera melapor kepada raja.

Suasana mulai mereda. Lynx pun menoleh kepada kepala desa dan berkata pelan, "Kepala desa, mengenai bantuan yang kuminta sebelumnya… bagaimana menurut anda?"

Deng Haoran menarik napas panjang, wajahnya tampak ragu. "Kami tidak memahami apa itu sihir, Tuan Xiao. Terus terang, kemampuan kami dalam memurnikan pil pun hanya bisa dilakukan di tempat ini. Ada tanaman langka dan formasi tersembunyi yang mendukung proses pemurnian. Itu sebabnya para alchemist yang belajar di Linxi, mereka datang ke sini dulu. Setelah memahami teori dan tekniknya, barulah mereka bisa melatih kultivasi mereka agar mampu memurnikan pil, meski tak sesempurna hasil dari desa ini."

Leena melangkah maju, suaranya lembut namun mantap. "Kepala desa, anda tidak perlu memurnikan pil. Kami hanya ingin anda membantu kami mencari solusi untuk mengatasi sihir yang menimpa penduduk kami. Bukankah begitu… suamiku."

Seketika wajah Leena memerah. Tanpa sadar, ia baru saja memanggil Lynx dengan sebutan suamiku di depan banyak orang. Hatinya berdebar hebat, malu bercampur hangat.

Lynx tersenyum samar dan mengangguk. "Benar. Kami membutuhkan banyak ahli untuk memecahkan masalah ini. Sebagai gantinya…" Ia mengangkat tangannya, dan sebuah pil berkilau muncul di telapak tangannya. Aroma medis yang kuat segera memenuhi udara, membuat para penduduk desa menahan napas takjub.

"Aku akan memberikan kalian resep pil ini," ucap Lynx tenang, menyerahkan pil itu kepada Deng Haoran.

Kepala desa terperanjat. Kedua tangannya bergetar saat menerima pil tersebut. "Ini… ."

Lynx tersenyum dan berkata "Ini Heaven Lifeline Pill."

Tangan kepala desa semakin bergetar. Dia pernah mendengar kisah para alchemist menceritakan tentang sebuah pil yang mampu menyelamatkan seseorang dari ambang kematian selama orang itu masih bernapas, bahkan seorang Grandmaster Langit.

"Heaven Lifeline Pill atau Pil Penopang Nyawa Langit. Setelah ditelan, pil akan menghentikan pendarahan, memperbaiki organ vital, dan memulihkan aliran Qi agar tubuh tetap bertahan. Efeknya bekerja seperti benang kehidupan, memperpanjang sisa hidup peminumnya. Pil ini dianggap harta langka karena bisa menyelamatkan seorang tokoh penting di medan perang atau alchemist besar dari kematian mendadak, sehingga sering disebut Penyelamat Sekarat di kalangan alchemist tingkat tinggi." Kata kepala desa dengan bergetar.

Lynx menganggukkan kepalanya, perkiraannya tidak salah. Sebagai alchemist tentu mereka pernah mendengar tentang pil ini. Pil yang dia buat untuk menyelamatkan nyawa penduduk Surya yang terkena sihir namun ternyata tidak memberikan efek apapun kepada mereka.

